Kereta Api Uap Bersejarah Ambarawa-Bedono Kembali Beroperasi

Kereta Api Ambarawa

– Usai dilakukan uji coba sekitar akhir bulan Agustus lalu, PT Indonesia (KAI) akhirnya mengoperasikan kembali jalur heritage Ambarawa-Jambu-Bedono, . Jalur wisata tersebut sempat dibuka untuk uap. Namun pada tahun 2009 ditutup lantaran menjadi bagian dari proyek reaktivasi jalur dan revitalisasi beberapa stasiun mulai dari Kedungjati di Kabupaten Grobogan hingga Bedono di Kabupaten .

Dengan pembukaan kembali jalur wisata tersebut diharapkan dapat meningkatkan kunjungan para turis domestik dan internasional ke Semarang dan Tengah. “Ini kereta yang memiliki keunikan, karena sudah langka di dunia,” ujar Direktur Komersial PT KAI, M Kuncoro di , Kabupaten Semarang, Tengah, Kamis (27/10).

Kini pihak KAI Daop 4 mengoperasikan 2 lokomotif uap yang sudah berumur 114 tahun, yaitu lokomotif B 2503 dan B 2502 yang sanggup menarik 2 kereta dengan kapasitas hingga 80 penumpang.

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo yang diwakili Kepala Dinas Pariwisata Jawa Tengah, Prasetyo Aribowo mengaku sangat mendukung proyek reaktivasi lawas tersebut. “Diperlukan guide yang tidak sekadar cantik atau tampan secara fisik, tetapi juga cerdas dalam menjelaskan dan menjawab pertanyaan pengunjung,” tutur Prasetyo.

Untuk dapat menjajal kereta api uap jalur Ambarawa-Bedono PP ini PT KAI menerapkan tiket seharga Rp 15 juta. Pasalnya, jika usia lokomotif makin tua, maka biaya operasional yang dibutuhkan pun semakin mahal. “Harga tersebut tentunya disesuaikan dengan biaya operasional lokomotif uap kuno tersebut,” papar Kuncoro.

Dengan adanya jalur heritage Ambarawa-Bedono, pihak KAI berharap dapat membantu perekonomian warga Ambarawa dan sekitarnya. “Karena masyarakat bisa memanfaatkan peluang kunjungan wisatawan ini dalam menggerakkan perekonomiannya,” tuturnya.

Manajer Humas KAI Daop 4 Semarang, Edi Suswoyo menjelaskan bahwa jalur itu pernah dioperasikan oleh perusahaan kereta api Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij tahun 1905 silam. “Jalur ini dulunya dipakai untuk mengangkut hasil bumi seperti kopi,” papar Edi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *