Pasca Longsor, Perjalanan Kereta Jalur Selatan Masih Alami Keterlambatan

Pasca Longsor, Perjalanan Kereta Jalur Selatan Masih Alami Keterlambatan

Tangerang (KAI) mengimbau seluruh api untuk melaju dengan kecepatan rendah ketika melewati lokasi bekas di Bumi Waluya-Cipendeuy, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Alhasil sejumlah di selatan pun mengalami keterlambatan pada Sabtu (25/11) kemarin karena terjadi antrean kereta di lokasi bekas .

“Untuk sementara waktu pembatas kecepatan kereta hanya lima kilometer per jam di Kilometer 230+8 sampai dengan 234+5,” ujar juru bicara Daerah Operasional (Daop) 2 Bandung, Joni Martinus, Jumat (24/11), seperti dilansir Liputan 6.

Ada sejumlah kereta yang dilaporkan mengalami keterlambatan, yaitu KA Lodaya (Bandung-Solo), KA Turangga (Bandung- Surabaya), KA Kahuripan (Kiaracondong- Kediri)- dan KA Malabar (Bandung-Malabar). Walaupun , tetapi keterlambatan perjalanan kereta api kabarnya tak separah hari Jumat (24/11) lalu.

Setelah tanah longsor pada Rabu malam lalu, PT KAI langsung sigap melakukan di perlintasan Bumi Waluya-Cipendeuy dan kereta dinyatakan aman melintas pada Jumat dini hari sekitar jam 02.35 WIB. “Semua kereta sudah berangkat normal, tetapi masih terlambat. Keterlambatan masih batas wajar, rata-rata 70 menit per keberangkatan. Saat ini kecepatan di lokasi bekas longsoran di KM 230+8 hingga 234+5 km juga sudah dinaikkan menjadi 10 kilometer per jam, jadi bisa lebih cepat,” tutur Joni.

Pihak KAI terus mengupayakan agar perjalanan kereta api di jalur selatan bisa berjalan normal lagi dengan memulihkan kondisi bekas longsor. “Normalisasi masih terus dikerjakan. Sejauh ini material longsor sudah dibersihkan dari rel. Gundukan tanah di samping rel juga sudah dirayakan dengan alat berat,” jelas Joni.

Sebagai langkah antisipasi, PT KAI Daop 2 juga menempatkan personel khusus yang bertugas mengantisipasi bahaya keselamatan perjalanan kereta api, terutama di jalur selatan kereta api kawasan Malangbong, Kabupaten Garut, Jawa Barat. “Kami sengaja siagakan pos dan petugas penjaga daerah rawan (bencana). Maka dari itu saat terjadinya gejala longsor langsung bisa diketahui, sehingga tidak ada korban jiwa dan tidak ada kereta yang terjebak,” tandas Joni.