Proyek KA Semi Cepat Dibangun 2018, Jakarta-Surabaya Cuma 5 Jam

Proyek KA Semi Cepat Dibangun 2018 Jakarta Surabaya Cuma 5 Jam

Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan, memastikan bahwa api semi cepat Jakarta- bisa mulai digarap pada tahun 2018 mendatang, dengan awal untuk rute Jakarta-Semarang selama dua tahun. Proyek ini sendiri diharapkan bisa rampung dalam jangka waktu empat tahun.

“Hasil diskusi terakhir dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla, semi cepat Jakarta-Surabaya menggunakan lama dan bisa dimulai pada tahun 2018,” jelas Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, di Bandara Trunojoyo, Sumenep, kepada wartawan. “Saat ini, proyek KA semi cepat tersebut sedang dilakukan studi dan tim Jepang dilaporkan menuntaskan kajian pada akhir November besok.”

Ia menambahkan bahwa untuk tahap pertama, pihaknya akan menggarap jalur Jakarta-Semarang dan diperkirakan bisa mulai beroperasi tahun 2019. Sementara, rute untuk sampai ke Surabaya, diharapkan bisa selesai dua tahun berikutnya. “Proyek ini cepat dan murah, sekaligus menyelesaikan banyak hal seperti persoalan perlintasan sebidang di jalur rel Jakarta-Surabaya sebanyak 800 titik,” lanjut Budi.

“Kereta itu nantinya didesain bisa melaku hingga kecepatan 160 km per jam. Namun, dalam pengoperasiannya, kereta mungkin tidak akan dipacu hingga kecepatan maksimal,” imbuh Budi. “Dengan kecepatan 140-150 km per jam, jarak Jakarta-Semarang nanti bisa ditempuh hanya dengan waktu 2,5 jam. Sementara, rute Jakarta-Surabaya nantinya bisa ditempuh dalam waktu hanya 5 jam.”

Berdasarkan kajian awal tim Jepang-Indonesia, kereta semi cepat Jakarta-Surabaya akan melaju di atas jalur eksisting yang saat ini sudah memiliki dua lajur (double track). Pilihan itu lebih memungkinkan bila dibandingkan dengan harus membangun jalur baru. “Penggunaan jalur eksisting ini juga bisa menurunkan kebutuhan investasi yang awalnya Rp80 triliun menjadi kisaran Rp50 triliun hingga Rp60 triliun,” tambah Budi.

“Proyek ini sekaligus bisa mengurangi kemacetan jalan. Nanti, perlintasan sebidang (sekitar 500-800 lintasan) diganti flyover (jalan layang) dan underpass (jalan bawah),” katanya. “Selain bisa mengurai kemacetan, flyover dan underpass juga diharapkan bisa menekan angka kecelakaan yang sering terjadi di lintasan kereta api.”