Usai Demo, 8 Karyawan Outsourcing Dikenakan Sanksi

demo karyawan outsourcing PT KCJ

Karyawan Selasa lalu (foto: detik.com)

– Usai demo karyawan outsourcing Selasa lalu, situasi dan kondisi penjualan tiket di sudah mulai berjalan normal setelah mendapatkan bantuan personel dari PT KAI.

Selasa, 25 Juni lalu sekitar pukul 04.30 WIB karyawan outsourcing di Stasiun menggelar demo yang berakibat pada pelayanan penjualan tiket. Masalah tersebut mengakibatkan antrean panjang calon penumpang yang ingin membeli tiket. Melihat hal itu, Kepala Stasiun , Darisbat Piliang turun tangan menjadi petugas loket.

“Kami turun tangan agar penumpang terlayani. Saya dan staf TU saya beserta yang lainya ikut melayani penumpang yang membeli tiket. Alhamdulillah akhirnya bisa terkendali juga,” kata Darisbat.

Menurut Darisbat, di yang bertugas di loket karcis ada 10 orang. Sebanyak delapan orang ikut demo dan dua lainnya tetap masuk.

“Di semua loket sepuluh petugas, yang hadir hanya dua, yang 8 tak bertugas sampai sekarang. Yang dua masih dinas,” kata Darisbat kepada Okezone di kantornya, kemarin.

Darisbat mengatakan, karyawan outsourcing yang memilih berunjuk rasa dan tidak melaksanakan dinas, sedang diproses atau dikenakan sanksi. Namun untuk sanksi pemecatan, hal itu merupakan wewenang vendor karena karyawan outsourcing berada dibawah pengawasan vendor bukan organik. Masih menurut Darisbat, sebelum mereka berdemo pihaknya sudah memanggil delapan pekerja tersebut untuk menegaskan agar siap menerima resiko apapun.

“Kami proses dulu yang delapan orang demo, bukan karena berdemo, itu kan hak mereka, tetapi karena memang mereka telah melanggar aturan disiplin pegawai, dipending dulu tak boleh didinaskan,” tegasnya.

Darisbat juga menginginkan kedelapan pekerja tersebut tak bekerja lagi di Stasiun , tetapi diganti dengan pegawai lainnya.

“Kami sudah panggil sebelumnya untuk siap terima risiko apapun. Pendingnya tak bisa kita tentukan sampai kapan, karena akan panggil vendor dulu. Sebagai penanggung jawab di , saya mau ganti orang, jangan mereka lagi. Dengan catatan, petugas yang pernah melaksanakan dinas dari stasiun lain, orang baru tapi stok lama, karena menyangkut pelayanan masyarakat luas,” imbuhnya.

Darisbat menyesalkan demo delapan pekerja tersebut, mereka sebenarnya memiliki kinerja yang baik tetapi mudah tersulut untuk ikut-ikutan memprotes. Padahal, kebanyakan dari mereka baru bekerja dengan masa kerja dua tahun.

“Rata-rata mereka ikut-ikutan dengan serikat pekerja kereta api Jabodetabek yang menuntut status jadi karyawan, padahal baru 2 tahun sayang sekali karena kinerjanya bagus, secara administratif mereka terancam, nanti yg memvonis vendornya. Nanti vendor yang menentukan nasib mereka, tetapi vendor masih tetap kami pakai. Itu semata-mata untuk efek jera,” ungkapnya.

Dinar Firda Rosa
S1 Pend. Teknik Informatika Universitas Negeri Malang | Angkatan 2011 | Malang, Jawa Timur

Leave a comment

Your email address will not be published.

*