Akibat Insiden KRL vs Metromini 80, 19 Pintu Perlintasan KA Sebidang di Jakarta Harus Ditutup

Maraknya insiden yang melibatkan dengan kendaraan bermotor di pintu sebidang membuat Kementerian Perhubungan harus melakukan tindakan tegas. Untuk mencegah hal serupa terjadi lagi, Kemenhub telah meminta Pemprov DKI Jakarta untuk menutup 19 pintu sebidang di area tersebut.

“Harus ditutup, izin yang dikeluarkan oleh Dirjen Kereta Api harus ditutup. Tapi ya begitu, sudah kami ingatkan lagi, begini lagi,” ujar Hermanto Dwiatmoko selaku Direktur Jenderal Perkeretaapian Kemenhub di Jakarta, kemarin (7/12).

Menurut Hermanto, diperlukan perlintasan kendaraan yang tidak sebidang dengan kereta api. Semisal, dengan memanfaatkan jalan layang (fly over) atan lintasan terowongan bawah tanah (). “Kereta api itu tidak bisa mengerem mendadak. Sehingga diperlukan lintasan yang steril untuk mengamankan laju kereta nya,” tegasnya saat ditemui di Gedung Kementerian Perhubungan, Jakarta.

“Ini supaya tidak membahayakan dan mengganggu kelancaran operasi kereta api dan lalu lintas jalan, serta pada jalur tunggal dengan frekuensi dan kecepatan kereta api rendah.” sambung Hermanto.

Ditemui di kesempatan berbeda, Ignasius Jonan memberikan kritik kepada Pemprov DKI terkait insiden kecelakan yang melibatkan KRL tujuan Jatinegara dengan metromini 80. Jonan menilai bahwa Pemprov DKI kurang peduli dan memahami tentang pentingnya keberadaan fly over dan underpass untuk menggantikan perlintasan sebidang.

“Menurut pengalaman saya selama di Jabodetabek, propinsi ini kurang peduli atau kurang paham, tidak mengerti pentingnya membangun under pass atau fly over,” katanya saat membuka rapat kerja di lingkungan Kementerian Perhubungan, Senin (7/12).

Jonan juga bercerita bahwa lintasan kereta layang sebetulnya sudah dirintis sejak zaman kolonial dengan sebutan ‘viaduct’. Salah satu contohnya adalah lintasan layang di Manggarai. Keberadaan lintasan khusus ini dirasa makin dibutuhkan menyusul volume kendaraan di ibukota yang sudah terlampau tinggi.