Aksi Damai Tiket Singletrip oleh Penumpang KRL

Aksi damai tiket single trip oleh para penumpang
yang dilakukan Widyatmoko beserta anak istrinya (foto: KCJ)

– Seminggu sejak penerapan e-ticketing tarif progresif KRL, PT KCJ mengumumkan telah kehilangan 700 ribu tiket elektronik. Penyebab utama hilangnya ini karena banyaknya nakal yang membawa pulang tiket tersebut. Kejadian ini menggugah hati seorang KRL untuk melakukan aksi damai dan menghimbau mengembalikan tiket KRL tersebut.

Widyatmoko, bersama istri dan ketiga anaknya melakukan aksi damai di depan loket utama Sudirman. Aksi Widyatmoko sekeluarga ini merupakan bentuk kepedulian penumpang KRL terhadap hilangnya kartu singletrip yang dibawa pulang penumpang.

“Sebagai penumpang niat saya ya cuma mau menggugah penumpang lain untuk mengembalikan kartu yang sudah mereka gunakan,” kata Widiyatmoko kepada detikcom, Minggu (14/7).

Mereka melakukan aksinya mulai pukul 07.00 sampai pukul 10.30 WIB. Dengan menggunakan baju berwarna kuning agar mencolok, Widyatmoko bersama istri yang menggendong bayinya membawa pamflet bertuliskan ‘Mari kita kembalikan kartu tiket singletrip yang terbawa ke rumah’.

Sedangkan kedua anaknya yang lain membawa pamflet bertuliskan ‘Beri kami tauladan dengan cara mengembalikan kartu tiket singletrip yang terbawa ke rumah’.

“Saya biasa di angkot kalau teman-teman saya bercerita tentang kartu Commet yang mereka bawa pulang. Kadang saya celetukin dengan bilang kalau ternyata kalian salah satu dari 700 kartu yang hilang,” cerita Widyatmoko yang bertempat tinggal di Vila Tomang blok C2 no 22, Tangerang.

Tak hanya memboyong istri dan anaknya serta pamflet himbauannya, Widyatmoko juga membagikan brosur hasil karyanya kepada penumpang sambil mengimbau untuk tidak lupa mengembalikan kartu singletrip. Beberapa penumpang memberi respon positif, namun ada juga yang justru memarahinya.

“Ada seorang bapak-bapak yang justru marah ke saya dengan bilang kalau itu karena kesalahan dari , saya berusaha jelaskan eh dia tetap saja marah-marah sama saya,” ungkapnya.

Setiap hari, ia berangkat kerja dari Tangerang menuju ke Casablanca menggunakan kereta dari stasiun Tangerang menuju stasiun Karet. Lokasi rumah yang begitu jauh dari tempat kerja membuatnya merasa tak punya pilihan lain selain berkereta.

Ia menambahkan akan melakukan aksi yang sama pekan depan. Widyatmoko juga berharap ada penumpang lain yang membantunya.

“Pekan depan saya mungkin akan bikin aksi yang sama di Sudirman juga. Mengingat di situ penumpang yang transit lebih banyak jadi mungkin aksi saya lebih banyak yang dengar. Lagi pula, kalau kartu itu dibawa pulang dan dikoleksi juga enggak akan berguna,”jelasnya.

Tentang Dinar Firda Rosa 263 Articles
Peminat studi Teknik Informatika, saat ini bermukim di Malang - Jawa Timur