Banyak Diprotes Konsumen, YLKI Desak PT KAI Copot Iklan Rokok di Stasiun

Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI - sp.beritasatu.com
Tulus Abadi, Ketua Pengurus Harian YLKI - sp.beritasatu.com

– Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) meminta pihak PT Indonesia (KAI) untuk mencopot iklan-iklan rokok yang terpasang di sejumlah . Pasalnya, menurut YLKI pihaknya kerap memperoleh keluhan dari konsumen KAI sehubungan dengan maraknya iklan rokok bertebaran di kawasan .

“YLKI mendesak Direktur Utama untuk membatalkan nota kesepahaman dengan industri rokok terkait pemasangan iklan rokok di stasiun dan mencopot iklan rokok yang sudah dipasang,” ujar Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi, Rabu (24/10), seperti dilansir Tempo.

Lebih lanjut Tulus mengatakan bahwa iklan rokok di area stasiun merupakan kemunduran yang serius bagi KAI. “Di era Pak Jonan (Ignasius Jonan) sebagai Dirut KAI, hal ini sudah dihapuskan,” ungkap Tulus.

Pengaduan yang masuk terhadap YLKI mayoritas berasal dari pengguna di daerah operasi Yogyakarta. Sejumlah stasiun yang disebutkan memasang iklan rokok adalah di Stasiun Tugu, Stasiun Lempuyangan, dan Stasiun Balapan. “Katanya itu adalah kebijakan pusat, karena ada nota kesepahaman antara PT KAI dengan salah satu industri rokok,” papar Tulus.

Tulus berpendapat bahwa langkah KAI yang menjalin kerja sama dengan industri rokok adalah pelanggaran hukum. Alasannya, stasiun merupakan area bebas asap rokok. Sementara itu, iklan dan promosi rokok dilarang dipasang di kawasan tanpa rokok. “Hal ini diatur dalam Pasal 115 UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, dan PP No. 109/tahun 2012 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan, dan juga berbagai Perda tentang KTR di Indonesia,” jelasnya.

Atas desakan YLKI tersebut, Kepala Humas PT KAI Agus Komarudin mengaku akan mengevaluasi penayangan sejumlah iklan rokok di sejumlah stasiun. “Kami akan evaluasi sepanjang kontrak yang berlaku dengan mitra yang memasang iklan. Itu akan jadi bahan evaluasi bagi kami ke depannya,” ungkap Agus.

Agus menjelaskan, bahwa KAI hanya menyediakan tempat bagi mitra untuk memasang iklan, sepanjang mitra mengurus sendiri perizinan ke pemerintah daerah. Perizinan dari Pemda pun harus terlampir dalam kontrak, baru kemudian dapat dipasang di stasiun.

“Sejauh ini, stasiun yang ada iklan rokok hanya di Yogyakarta dan Surakarta. Di Surakarta memang ada izin dari pemerintah daerah, sedangkan di Yogyakarta, kami cek tidak ada,” bebernya. Oleh sebab itu, iklan rokok yang ada di stasiun kawasan Yogyakarta nantinya akan segera diturunkan.