Jalur KA Nonaktif di Jawa Tengah Berpotensi Gerakkan Perekonomian

Sedikitnya ada sekitar 455 km yang berstatus nonaktif di . Jalur KA yang mangkrak tersebut terbentang dari hingga ke . Pakar yang juga menjabat sebagai Dosen di Dosen Universitas Soegijapranata Katolik (Unika) Semarang, Djoko Setijowarno, mengatakan bahwa jalur KA tersebut terbengkalai sejak tahun 1880-an akibat kalah bersaing dengan darat lainnya yang berdasis raya. “Pada pemerintahan Hindia Belanda, jalur KA tersebut tidak hanya mengangkut orang, tapi juga untuk mendukung peningkatan sektor ekonomi. Jalur tersebut digunakan untuk mengangkut komoditas utama, seperti pertanian, kehutanan [kayu jati], karung goni, dan gula,” ungkapnya pada awak media, kemarin (20/9).

Jalur KA nonaktif Semarang-Bojonegoro ini merupakan bagian dari 2.140 km jalur KA yang tidak digunakan di pulau Jawa (mulai Banten hingga Madura). Jalur KA tersebut meliputi Semarang-Demak-Kudus-Pati-Juwana-Rembang-Lasem-Bojonegoro sepanjang 106 km, Jalur Demak-Purwodadi-Blora sepanjang 9 km, Jalur Purwodadi-Ngrombo sejauh 9 km, Jalur Pengkol-Kradenan sepanjang 8 km, Jalur Kudus-Mayong-Bakalan/Pecangan/Welahan sejauh 28 km, Jalur Juwana-Bulumanis-Tayu sejauh 25 km, dan jalur Rembang-Blora-Cepu sepanjang 74 km.

Jika diaktifkan, jalur tersebut sangat potensial untuk menumbuhkan perekonomian disekitarnya karena banyak terdapat pabrik gula. Di daerah Pati dan Rembang juga terdapat pabrik semen. “Koridor Semarang-Bojonegoro ini dulunya terdapat 23 dan 78 halte. Sekitar 80% lebih, lokasi halte berada di pedesaan sehingga mengaktifkan koridor ini dapat menghidupkan ekonomi pedesaan. Apabila ekonomi pedesaan bergerak akan mengurangi laju urbanisasi,” ujarnya.