Jumlah Penumpang Kereta Api Selama Januari 2021 Turun 11,5%

Suhariyanto, Kepala BPS - www.satuharapan.com
Suhariyanto, Kepala BPS - www.satuharapan.com

Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa api di Pulau Jawa dan Sumatera mengalami penurunan sebesar 11,9 juta orang atau sekitar 11,5% pada bulan Januari 2021. Dari angka tersebut, penurunan penumpang memberi kontribusi terbesar mencapai 85,28 persen atau 10,1 juta orang.

“Penurunan jumlah penumpang terjadi di wilayah Jabodetabek dan Jawa non Jabodetabek masing-masing turun 10,42 persen dan 23,33 persen,” kata Kepala BPS Suhariyanto, Senin (1/3), seperti dilansir Liputan6.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya (year on year), penurunan jumlah penumpang KA pada Januari 2021 mencapai 65,13 persen. “Penurunan jumlah penumpang ini terjadi baik karena adanya penurunan penumpang untuk KRL Jabodetabek maupun untuk Kereta Api Jarak Jauh karena pasca liburan Nataru [Natal dan Tahun Baru],” jelas Suhariyanto.

Lebih lanjut Suhariyanto menjelaskan, dari tren penurunan itu, penurunan jumlah penumpang KRL Jabodetabek cukup signifikan karena adanya kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan (PPKM). Seperti diketahui, menerapkan PPKM mulai tanggal 11 Januari 2021 dan sampai sekarang masih terus berlanjut jadi PPKM berbasis mikro.

“Jadi selama PPKM kemarin, penumpang KRL juga mengalami penurunan yang cukup signifikan di mana penumpang KRL menyumbang 80 persen terhadap total [jumlah penurunan] kereta penumpang,” sambung Suhariyanto.

Adapun di wilayah Sumatra terjadi kenaikan jumlah penumpang KA sebesar 6,72 persen. Sedangkan jumlah yang diangkut oleh kereta api pada bulan Januari 2021 mencapai angka 4,0 juta ton atau anjlok 8,61 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Sebagian besar barang yang diangkut menggunakan kereta api itu ada di wilayah Sumatera sebanyak 3,0 juta ton atau 76,38 persen dari keseluruhan barang yang diangkut dengan kereta api. Penurunan jumlah barang yang diangkut KA terjadi di wilayah Jawa dan Sumatera, masing-masing sebesar 0,95 persen dan 10,75 persen.

Suhariyanto menilai, turunnya jumlah angkutan barang ini karena adanya penurunan angkutan peti kemas di wilayah Jawa dan angkutan batu bara di wilayah Selatan. “Sementara untuk year on year [dibandingkan 2020], juga mengalami penurunan sebesar 12,2 persen,” tandasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*