KA Pangrango Disambut Antusias Warga Sukabumi

KA Pangrango dan penumpang yang menunggu keberangkatannya
KA Pangrango dan yang menunggu keberangkatannya

Mulai Sabtu, 10 November 2013 KA Pangrango rute Bogor – Sukabumi mulai dioperasikan. Pengoperasian KA Pangrango ini disambut antusias para warga.

“Saya menyambut baik  diaktifkannya jalur Bogor-Sukabumi, sehingga jadi ada alternatif untuk dari dan ke Sukabumi,” kata Andi Ardianysah, warga Bogor.

Andi berujar bahwa sejak KRD Bumi Geulis Bogor – Sukabumi tidak beroperasi lagi, warga sangat kesulitan untuk akses menuju Sukabumi melalui jalur darat. Hal ini disebabkan karena jalur yang harus dilalui sering mancet terutama di wilayah Ciawi.

“Karena sekarang jalur darat agak susah menempuh dari Bogor ke Sukabumi, lewat jalan raya dengan waktu tempuh bisa berjam-jam,” kata dia.

Dengan adanya hal ini Andi meminta agar dapat menambah jumlah rangkaian KA Pangrango serta menambah frekuensi perjalanan agar lebih banyak.

Rizky Budiawan, warga Sukabumi mengungkapkan dirinya merasa terbantu dengan dioperasikannya KA Pangrango.

“Bisa memenuhi keinginan masyarakat Sukabumi, yang mengharapkan bebas macet,” ujarnya.

KA Pangrango melayani jurusan Bogor-Sukabumi pulang pergi tiga kali dalam sehari.

Dari Bogor kereta keberangkatan mulai pukul 07.30 WIB, lalu pukul 12.30 dan 17.30.  Dari Sukabumi, kereta berangkat dari pukul 05.00, 10.00 dan 15.00 WIB.

Rangkaian KA Pangrango ini terdiri dari satu , satu pembangkit, satu lokomotif dan tiga . Kapasitas penumpangnya dalah sebanyak 368 kursi dan dilengkapi dengan penyejuk udara.

Untuk kelas ekonomi dibanderol seharga Rp15.000 per orang dengan jumlah kursi 318. Dan kelas eksekutif seharga Rp 35.000 per orang dengan jumlah kursi sebanyak 50.

Tentang Mirza Pratiwi 347 Articles
Kontributor berita, berasal dari Madiun: pusat pengembangan industri kereta api di Indonesia. Saat ini sedang menyelesaikan studi Teknologi Informasi di Universitas Negeri Malang. Penulis yakin bahwa masalah transportasi di Indonesia akan lebih baik jika difokuskan pada pembangunan sistem transportasi masal.