KAI Integrasikan Angkutan Barang Kereta Api dengan Pelabuhan Tanjung Perak

Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo - www.cnnindonesia.com

Jakarta – PT Indonesia (Persero) meresmikan KA Peti Kemas dengan rangkaian 10 berkapasitas 20 twenty-foot equivalent units (TEUs) dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya menuju Pasoso, Jakarta pada Kamis (3/6) lalu.

Menurut Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo, reaktivasi logistik tersebut dapat memberi nilai lebih untuk industri logistik dan kepelabuhanan nasional sebagai value creator dan membuat lebih kompetitif. Selain itu, terbangunnya konektivitas KA ke Pelabuhan Tanjung Perak diharapkan bisa membuat distribusi logistik jadi lebih efisien.

“Reaktivasi jalur kereta api yang terintegrasi dengan Terminal Petikemas Surabaya selaras dengan visi KAI yaitu menjadi solusi ekosistem terbaik untuk Indonesia,” kata Didiek, Jumat (4/6), seperti dilansir Sindonews.

Sebagai informasi, Jalur Terminal Petikemas Surabaya menuju Stasiun Kalimas kembali diaktifkan usai terakhir kali beroperasi pada 30 Maret 2016. KAI sudah melakukan berbagai persiapan sebelum jalur tersebut dinyatakan laik operasi. Misalnya saja dengan melaksanakan pembongkaran material yang menutupi jalan rel, penggantian wesel dan bantalan rel baru, serta memperbaiki posisi rel.

Adapun komoditas yang dilayani di Terminal Petikemas Surabaya meliputi petikemas multikomoditi ekspor-impor. Dengan terintegrasinya angkutan kereta api dengan pelabuhan, maka para mitra angkutan barang KAI bisa melakukan bongkar muat di Terminal Petikemas Surabaya Pelabuhan Tanjung Perak.

Integrasi jalur KA dan pelabuhan sendiri adalah wujud implementasi nota kesepahaman atau MoU antara PT KAI dan Pelindo III sebagai induk usaha TPS yang dilakukan sejak November 2020 lalu. “Kami atas nama KAI mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pelindo III dan TPS atas semangat kolaborasi mewujudkan sinergi dalam bentuk konektivitas antara angkutan kereta api dan pelabuhan,” ungkap Didiek.

Terintegrasinya jalur kereta api dengan pelabuhan diharapkan bisa membuat para pelaku logistik makin tertarik untuk mengangkut barang dengan kereta api, karena angkutan barang dengan kereta api mempunyai keunggulan seperti kapasitas, ketepatan waktu, keselamatan, dan keamanan.

“Kami berharap semangat sinergi, kolaborasi, dan konektivitas yang terintegrasi ini dapat sustain untuk membangun value added bagi industri logistik dengan cara lebih efisien. Sehingga biaya logistik nasional yang masih sekitar 23-26 persen secara nasional dapat mendekati negara-negara maju antara 8-12 persen,” tandasnya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*