KAI Sukses Halau Atapers Berkat E-ticket

JAKARTA – PT Indonesia (KAI) telah melakukan berbagai macam cara untuk menghalau atapers alias tanpa yang naik di atap kereta.

Dalam usahanya, telah mencoba cara-cara unik, diantaranya adalah anjing pelacak, pemberian ceramah oleh ustad, serta cat semprot yang dipasang di beberapa . Akibat pemasangan cat semprot, sempat terjadi perselisihan antar penumpang dan petugas.

Penumpang nakal yang disemprot cat melawan ketika ditertibkan petugas. Bahkan beberapa penumpang sempat melempari petugas dengan batu. Selain itu, PT KAI juga sepmat memasang bola beton seberat 3 kg serta alat sapu-sapu atap berbentuk seperti sapu lidi hanya untuk menghalau atapers.

Senjata terakhir yang sempat diciptakan PT KAI adalah pintu koboi, alat yang terbuat dari fiber glass dengan tebal 1 cm, panjang 1,5-2 m, dan lebar 10 cm ini ditempel pada tiang listrik. Akibatnya, penumpang yang nekat naik ke atap akan terkena tamparan. Menurut PT KAI dengan alat tersebut, jumlah atapers berkurang hingga 45 persen.

Namun sejak PT KAI Commuter Jabodetabek (KCJ) mulai menerapkan tiket dan gerbang elektronik, sterilisasi peron hingga mengganti KRL dengan , atapers tidak lagi terlihat.

menarik KRL Ekonomi pada Rabu (24/7/2013) lalu. Penghapusan KRL ekonomi yang lebih cepat dari ini merupakan pengaruh besar menghilangnya atapers. Sebelumnya KRL ekonomi akan dihapus pada 1 September 2013 mendatang. Namun, sejak berlakunya sistem tarif progresif berdasar jarak yang ditempuh Commuter Line, penikmat mulai berpindah ke KRL Commuter Line yang bertarif mulai Rp 2.000 untuk 5 stasiun pertama.

Pihak PT KCJ juga menegaskan bahwa kemungkinan besar menghilangnya atapers adalah akibat dihapusnya KA ekonomi dan digantikan KRL Commuter Line.

“Mudah-mudahan ya. Mudah-mudahan tetap seperti ini. Saya juga tidak lihat atapers lagi akhir-akhir ini,” kata Eva Chairunnisa, Humas PT KCJ, kepada detikcom ketika dikonfirmasi di Stasiun Pondok Cina, Depok, Jawa Barat, Kamis (22/8/2013).

Tentang Dinar Firda Rosa 263 Articles
Peminat studi Teknik Informatika, saat ini bermukim di Malang - Jawa Timur