Kekurangan Konsultan Profesional, Pembangunan Jalur KA di Kalimantan Tersendat

Jakarta – di menghadapi kendala baru. Pasalnya, tenaga konsultan handal yang tersedia untuk ini jumlahnya masih jauh dari kata cukup. Hal ini disampaikan oleh Hermanto Dwiatmoko, Dirjen Perkeretaapian , seusai acara peluncuran Asosiasi Penunjang Perkeretaapian Indonesia di Kementerian Perindustrian, Jakarta, kemarin (10/2).

“Konsultannya tidak sampai 10 orang, karena ini ada ketentuannya dan yang ahli mengenai ini sangat terbatas,” ujar Hermanto.

Padahal,  proyek Kereta Api Borneo ini telah dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada November 2015 lalu, dan ditargetkan selesai pada tahun 2020 mendatang. Oleh karena itu, demi mengejar waktu, Hermanto mengaku telah melakukan kerjasama dengan sejumlah rektor di Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera untuk menyediakan mata kuliah khusus Perkeretaapian.

“Ke depannya akan dibuat kursus singkat spesifikasi, 6 bulan atau 1 tahun agar memiliki keahlian di bidang Perkeretapian, karena selama ini kurang diminati,” ungkapnya.

Dalam dokumen milik Dirjen Perkeretaapian Kemenhub disebutkan ada 10 jalur yang masuk dalam “draft” rencana pembangunan jalur perkeretaapian di Kalimantan pada periode 2015-2019, diantaranya adalah jalur Pontianak-Batas Negara, Pontianak-Sanggau, Sanggau-Palangkaraya, Banjarmasin-Palangkaraya, Banjarmasin-Tanjung, Tanjung-Balikpapan, Balikpapan-Samarinda, Samarinda-Lubuk Tutung, Tanjung Redep-Lubuk Tutung, dan Batas Negara-Tanjung Redep.

Di lintas utara, jalur Kereta Api Borneo sepanjang 223 km akan menghubungkan BHP Billiton’s Indomet Coal Project dengan Pelabuhan Bayan. Sedangkan pada lintas selatan, akan disambungkan Pelabuhan Buluminung dengan BHP Billiton’s Indomet Coal Project melalui jalur sepanjang 352 km.