Harga Kebutuhan Pokok Melonjak, Kenaikan Tarif KRL Jabodetabek Dikaji Ulang

Penumpang KRL wajib pakai masker kesehatan - tribunnews.com

Kementerian Perhubungan memutuskan untuk tidak menaikkan tarif (kereta rel listrik) Jabodetabek dalam waktu dekat. Juru Bicara Kementerian Perhubungan, Adita Irawati, mengatakan bahwa pihaknya melakukan kajian ulang setelah masa 2022, mengingat ada kenaikan berbagai kebutuhan pokok yang memengaruhi daya beli masyarakat.

“Kami melakukan kajian ulang usai masa mudik Lebaran 2022 ini, mengingat terjadi juga kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok yang memengaruhi daya beli masyarakat. Kami nanti akan segera menyampaikan ke masyarakat apabila ada penyesuaian tarif,” papar Adita, dikutip dari Kompas. “Meski begitu, kami tidak akan melakukan penyesuaian tarif KRL Jabodetabek dalam waktu dekat ini.”

Seperti diketahui, pada awal tahun 2022 lalu, tersiar kabar bahwa Kementerian Perhubungan akan melakukan penyesuaian tarif perjalanan KRL dari saat ini Rp3.000 menjadi Rp5.000 per 25 kilometer pertama. Saat itu, penyesuaian tarif perjalanan KRL tersebut direncanakan berlaku pada April 2022, kemudian mundur lagi setelah musim mudik Lebaran 2022.

Menurut pengamat , Djoko Setijowarno, kebijakan dari kenaikan harga tiket KRL harus segera direalisasikan. Dia menyebut, dalam hal ini Kementerian Perhubungan dan PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) harus segera membahasnya lagi. “Kenaikan tarif KRL adalah wacana lama yang belum terlaksana dan terealisasi. Sebenarnya dari 2018 sudah mau dinaikkan, harusnya juga segera direalisasikan, tidak perlu ditunda-tunda lagi,” ujarnya kepada MNC Portal Indonesia.

Sebagai informasi, kenaikan tarif menjadi Rp5.000 dari Rp3.000 dikenakan untuk perjalanan 25 km pertama. Sementara itu, untuk 10 kilometer selanjutnya, tetap dikenakan tambahan tarif sebesar Rp1.000. Jadi, perjalanan awal dengan KRL untuk 25 km pertama adalah sebesar Rp5.000, jika sampai 35 km maka tarif menjadi Rp6.000, jika sampai 45 km menjadi Rp7.000, dan seterusnya.

Kasubdit Penataan dan Pengembangan Jaringan Direktorat Lalu Lintas dan Ditjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Arif Anwar menjelaskan, usulan kenaikan tarif KRL merupakan hasil kajian kemampuan membayar (ability to payment) dan kesediaan pengguna untuk membayar (willingness to pay) kereta api perkotaan. Dari hasil survei yang dilakukan di lingkup Jabodetabek, rata-rata kemampuan membayar masyarakat untuk penggunaan KRL sebesar Rp8.486. Sementara itu, kesediaan membayar masyarakat sebesar Rp4.625.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*