Berkembang ke Arah Digital, PT Kereta Api Logistik Siap Terjun ke Bisnis E-Commerce

Kereta Api Logistik
Ilustrasi : Kereta Api Logistik - sindonews.com

Jakarta – PT () selaku anak perusahaan dari PT Indonesia (KAI) memiliki rencana untuk merambah e-commerce. Untuk menunjang rencana tersebut, KALOG pun berupaya untuk menggandeng sejumlah pihak agar dapat menjalankan logistik secara digital.

Menurut Plt Direktur Utama Kereta Api Logistik Hendy Helmy, KALOG sangat antusias untuk dapat merambah bisnis di sektor e-commerce. Pasalnya, potensi pendapatan di sektor e-commerce menurutnya cukup besar.

“Justru ini yang saya pikir peluang buat Kereta Api Logistik. Nilainya sangat besar, terus jumlahnya sangat besar, dan semua orang berebut untuk meng-grab pasar e-commerce. Karena nilainya besar dibandingkan kita ngambil barang yang sifatnya bak besar,” ungkap Helmy di Jakarta, Sabtu (7/9), seperti dilansir Liputan6.

KALOG juga sekarang ini memang sudah mulai menjangkau sektor bisnis digital meskipun porsi keterlibatannya masih belum terlalu besar. “Untuk e-commerce kita masih kecil, mungkin di bawah 10 persen,” imbuh Helmy.

Helmy mengaku saat ini belum terlalu banyak terlibat dalam bidang bisnis tersebut karena sebelumnya masih fokus untuk membenahi sisi internal supaya lebih mampu bertahan di tengah ketatnya persaingan di pasar logistik. “Dengan ini sudah mulai bagus, kita sudah mulai membuka diri untuk melakukan ekspansi dengan membangun kerjasama dengan setiap agen-agen,” tutur Helmy.

Selain itu, KALOG pun dalam waktu dekat ini berencana untuk membuka keagenan di setiap pengusaha yang hendak berbisnis logistik dengan perseroan. Program kemitraan itu ditargetkan bisa terealisasi tahun 2019 ini. “(Kapan?) Mungkin sekitar bulan Oktober atau November lah,” ungkapnya.

Tahun ini PT Kereta Api Logistik juga menargetkan untuk dapat meraih pendapatan sebesar Rp1,1 triliun, lebih tinggi 18,5% dari realisasi pendapatan tahun 2018 yang mencapai Rp928,5 miliar. Tetapi angka tersebut masih di bawah kenaikan dari tahun 2017 yang mencapai 27%. “Kami hanya menargetkan Rp1,1 triliun karena tahun ini kami sedang konsolidasi. Itu baru dasar kita,” jelas Helmy.

Helmy memaparkan, konsolidasi organisasi yang dimaksud merupakan perubahan konsep bisnis dan keorganisasian yang fokus pada proses bisnis. Dulu model pengembangan seperti itu telah dilaksanakan, namun terdapat bisnis-bisnis baru yang juga perlu dihidupkan lagi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*