Lokomotif Tua Buatan Jerman Direstorasi, Bakal Dioperasikan Sebagai Kereta Wisata di Solo

Eko Budiyanto, Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi 6 Yogyakarta - www.solotrust.com
Eko Budiyanto, Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi 6 Yogyakarta - www.solotrust.com

Solo – Jejak kolonial Belanda di Indonesia masih tersisa di beberapa aspek, termasuk sejumlah tua yang tergolong langka serta jaringan perlintasan . Dalam rangka meningkatkan sektor pariwisata Solo, bengkel Balai Yasa Yogyakarta melakukan restorasi loko uap tua produksi Hanomag Hannover, Linden, Jerman, tahun 1921.

Loko berkode lambung D 1410 yang sudah selesai direstorasi itu akan segera diluncurkan dan diharapkan dapat memperkuat wisata Solo. Sebelumnya, Solo juga sudah memiliki kereta wisata yang digerakkan loko uap bernama Jaladara. “Loko tua ini jalan ke Solo, dulu memang loko uap untuk jurusan Solo-Yogyakarta,” ujar Eko Budiyanto, Manager Humas PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 6 Yogyakarta, Kamis (6/2), seperti dilansir Tempo.

Restorasi loko uap yang selama ini disimpan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta tersebut adalah permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi) karena mempunyai nilai sejarah dan berpotensi untuk dijadikan kereta wisata. Lokomotif tua tersebut dibawa ke Balai Yasa Yogyakarta dalam kondisi mesin mati dan rusak pada April 2019 lalu. Proses restorasinya membutuhkan waktu sekitar 7 bulan.

Tepat pada 6 Februari 2020 lalu, loko uap dengan bahan bakar kayu dan batu bara itu kembali dapat beroperasi. “Ini adalah bersejarah dari loko uap. Seperti napak tilas karena puluhan tahun lalu ada loko uap dengan jurusan  Solo-Yogyakarta. Sekarang hidup lagi walau hanya satu perjalanan,” ungkap Executive Vice President (EVP) PT KAI Daop 6 Yogyakarta Eko Purwanto.

Setelah rampung diperbaiki, loko uap itu berhasil digunakan untuk menempuh perjalanan sekitar 60 km dari Lempuyangan Yogyakarta ke Purwosari, Solo, Kamis (6/2), dengan lama perjalanan sekitar 5,5 jam dan kecepatan 30 km per jam.

Lebih lanjut Eko menuturkan, selama perjalanan loko uap tak terkendala kerusakan mesin, tetapi sempat singgah di Stasiun Klaten untuk melakukan pengisian air dan menambah bahan bakar. “Ini adalah perjalanan bersejarah dari loko uap. Seperti napak tilas karena puluhan tahun lalu ada loko uap dengan jurusan Solo-Yogya,” ujar Eko.

Proses restorasi loko uap itu sendiri menghabiskan dana sekitar Rp2 miliar dan ke depannya akan dioperasikan sebagai kereta wisata di Kota Solo, mendampingi loko uap Jaladara yang sudah lebih dulu ada. “Kami nanti akan gunakan sebagai kereta wisata, untuk melayani wisatawan. Rencananya loko ini akan di-launching pada tanggal 17 Februari nanti bertepatan dengan HUT Pemkot Solo,” ungkap Kepala Dinas Perhubungan, Heri Prihatmo.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*