Molek, Kereta Mini Peninggalan Zaman Penjajahan

foto: Gi Gie/youtube

merupakan sebuah kata yang berkaitan dengan perempuan, namun yang ada di Bengkulu Utara ini berbeda. ala Bengkulu Utara merupakan penjajahan zaman penjajahan yang telah dimodifikasi. Bentuknya menyerupai mikrolet dan digunakan sebagai sarana darat.

Molek adalah kependekan dari motor lori ekspres. Menggunakan pendorong mesin diesel yang digunakan untuk memutar roda lori yang dihubungkan dengan rantai berukuran besar. Angkutan publik ini, mampu mengangkut hingga 12 .

Molek diciptakan oleh Wan Tanggang, warga Lebong Tandai, dan hanya bisa ditemukan di Desa Lebong Tandai, Kecamatan napal Putih, Kabupaten Bengkulu Utara.

Zikri, salah satu tokoh masyarakat setempat, mengatakan, lori di ubak menjadi Molek pada tahun 1997. Zikri menambahkan, molek memiliki empat roda besi dengan jarak masing-masing sumbu roda sekitar 1,25 meter. Panjang badan 6 meter dan lebar 1,5 meter.

“Molek menggunakan mesin diesel, itu setelah adanya inovasi dari Wan Tanggang,” jelas Zikri kepada kompas.com.

Dalam pengoperasiannya alat ini dipandu oleh seorang masinis yang bertugas mengatur kecepatan mesin diesel. Masinisnya juga memiliki fungsi yang sama dengan masinis pada umumnya, yaitu mengatur kecepatan laju kereta.

Dengan kecepatan 10 – 15 kilometer per jam, memiliki setir, gas injak yang dimodifikasi dan rem prodo.

“Molek itu sama seperti mobil, ada setirnya, gas, rem. Hanya saja, semua itu dimodifikasi oleh warga untuk menggerakkan molek,” ujar Zikri.

Selain itu, alat transportasi ini juga memiliki persneling 6 langkah, gigi mundur dan juga dipasangi bak kopling dari mobil Suzuki Futura atau bak mobil Zebra.

Tentang Dinar Firda Rosa 263 Articles
Peminat studi Teknik Informatika, saat ini bermukim di Malang - Jawa Timur