Mulai 2015, Sewa Lahan PT KAI Naik 26 Kali Lipat

M.IRSYAD MAHLAFI/RASO

– Sewa lahan milik PT Ke reta Api Indonesia (PT KAI) naik fan tastis. Tidak tanggung-tanggung, ke naikan mencapai 26 kali lipat, dari se mula Rp 141 ribu menjadi Rp 3,8 juta setahun. Tentu saja, kebijakan ini dikeluhkan para penyewa lahan.

Kebijakan ini tidak konsisten. Pasalnya, sebelumnya, PT KAI belum berencana menaikkan sewa lahannya, kendati telah ada kenaikan bahan bakar minyak (BBM). Pernyataan ini disampaikan Vice President Aset Non Produksi PT KAI Wilayah Jawa Bagian Tengah, Sudibyo, Selasa (9/12). Disebutkan Sudibyo, tarif tetap di berlakukan sama seperti besaran 2007, atau kali terakhir penyewa ditarik uang pembayaran. Tetapi, ternyata realita di lapangan berbeda.

Seperti diungkapkan salah seorang penyewa yang menempati lahan di dekat rel sebelah selatan Giri Soka Wonogiri. Perempuan yang meminta namanya tidak dikorankan ini mengaku terkejut setelah menerima surat soal tarif sewa yang harus dibayar dari PT KAI. Pasalnya, biaya sewa melambung terlalu tinggi, dari semula hanya Rp 141 ribu pertahun, menjadi Rp 3,8 juta setahunnya, untuk lahan seluas 375 meter persegi. Ironisnya , kenaikan itu tanpa mekanisme pemberitahuan terlebih dahulu.

“Tahu-tahu sudah diberi surat kalau sewa yang harus saya bayar selama tujuh tahun sejak 2008 sampai sekarang mencapai Rp 26 juta, atau Rp 3,8 juta setahunnya. Ini di luar kewajaran. Kalau naik dua kali lipat masih bisa diterima. Tapi ini masak sampai puluhan kali lipat,” ungkap penyewa lahan di Lingkungan Bauresan, Kelurahan Giritirto, Kecamatan Wonogiri Kota itu, kemarin (12/12).

Kekagetannya tak berhenti sampai di situ saja. Besaran sewa selama tujuh tahun ini harus sudah lunas pada Juli tahun depan. Waktu yang menurutnya terlalu mepet untuk mengumpulkan uang sejumlah itu. Kendati merasa keberatan, dia tidak bisa berontak.

Sebab, penentuan tarif ada lah hak mutlak pemilik lahan. Hanya sa ja, dia mengharap, sebelum dilakukan , semestinya diberitahukan dulu kepada .

Warga lainnya yang juga enggan namanya disebut, menerangkan, seluruh penyewa diharuskan membayar tarif sewa sejak 2008 hingga sekarang. Sebab, sewa terakhir dibayar tahun 2007, dan hal itu bukan kesalahan dari penyewa. Diterangkannya, penyewa tidak nakal dengan enggan membayar, terbukti pembayaran sewa sebelum 2007 selalu berjalan lancar.

Entah kenapa PT KAI tak lagi menarik iuran sewa sejak 2008, warga tak juga diberi informasi apapun. Tapi, penyewa justru beritikad baik dengan mendatangi petugas di Stasiun Giri Soka untuk membayar sewa mulai 2008 dan seterusnya.

“Katanya petugas, untuk membayar sewa harus langsung dengan petugas KAI dari Daops . Jadi harus menunggu petugas Jogja datang dulu. Tapi kami tidak pernah tahu kapan datangnya, kami juga tidak pernah diberitahu. Hal ini terjadi sampai sekitar tujuh tahun, dan baru diberitahu lagi kemarin (9/12),” terangnya.

Ditambahkan, hal ini juga dialami semua warga penyewa lahan milik PT. KAI disepanjang bantaran rel . Para warga saat ini pun nggresulo berkaitan dengan sewa lahan yang dinilai terlalu tinggi. “Ya bagaimana lagi, mosok harus pergi dari sini,padahal rumah saya sudah permanen kan sayang,” katanya. Sayang, Sudibyo hingga berita ini diturunkan belum berhasil dimintai keterangan oleh Radar Solo.
(ris/bun/jpnn)

Tentang Masinis 182 Articles
Memulai karir menulis sejak duduk di bangku SMP sebagai layouter dan redaktur, dan membawa proses kepenulisannya hingga di bangku kuliah. 10 tahun terakhir aktif sebagai tenaga desainer di sebuah perusahaan yang berpusat di Malang. Beberapa tahun terakhir menjadi penumpang setia kereta api pagi rute Malang-Surabaya yang berangkat dari Stasiun Kotabaru jam 04.20 setiap hari. Sejak itu, penulis tertarik dengan segala hal tentang kereta api dan sistem transportasi publik.

1 Comment

  1. Berita di atas bahwa sewa lahan milik PT KAI tahun 2015 naik sangat signifikan terjadi hampir di semua lokasi di daerah operasi (Daop). Sebagai masukan, seyogyanya manajemen PT KAI membenahi sistem manajemn administrasi dan kejelasan sewa lahan secara transparan (terbuka) agar tidak merugikan kedua pihak, baik PT KAI (pemilik lahan) dan warga (penyewa lahan). Aset (lahan dan bangunan) PT KAI apabila dikelola dengan baik akan mengembangkan PT KAI menjadi perusahaan yang semakin maju.
    Terimakasih dan semoga PT KAI dapat merespon.

Komentar ditutup.