Persinyalan Kereta Api Indonesia

Perangkat merupakan alat yang berfungsi sebagai isyarat berupa warna maupun bentuk yang ditempatkan di tempat-tempat tertentu. Perangkat tersebut akan memberikan isyarat tertentu untuk mengatur dan mengontrol pengoperasian .

sinyal keluar mekanik
Sinyal Keluar Mekanik (foto: id.wikipedia.org)

Terdapat 3 sistem persinyalan kereta api, yakni:

Sinyal Mekanik

Sinyal jenis ini digerakkan secara mekanik. Terdapat tuas yang dapat dinaik turunkan untuk memberi instruksi kepada masinis. Di , sistem persinyalan jenis ini digunakan pada lintasan dengan frekuensi rendah, namun kini mulai ditinggalkan dan diganti dengan sistem persinyalan yang lebih modern.

tuas penggerak sinyal mekanik yang berada di stasiun kereta
Tuas Penggerak Sinyal Mekanik yang Berada di Kereta (foto: id.wikipedia.org)

Sinyal Mekanik dengan Blok Elektro Mekanik

Dengan prinsip penggunaan yang sama dengan Sinyal Mekanik, sinyal jenis ini menggunakan tuas juga. Namun tuas atau lengan isyarat dinaik turunkan oleh perangkat elektro mekanik.

Urutan pemasangan sinyal jenis ini, yang pertama sinyal muka (elektrik), sinyal masuk (mekanik), serta yang terakhir siyal keluar (mekanik).

Sinyal Elektrik

Sinyal listrik dua aspek (merah dan hijau)
Sinyal Elektrik Dua Aspek (foto: id.wikipedia.org)

Sinyal elektrik sama halnya dengan lampu lalu lintas yang mengatur pengoperasian kereta api. Jenis lampu yang digunakan di Indonesia adalah LED, selain itu dipasang juga 2 lampu disetiap aspek. Sedangkan warna lampu sinyal kereta api tidak jauh beda dengan warna lampu trafic light yang ada di , yakni:

  1. Warna merah menunjukkan indikasi tidak aman, jika sinyal ini muncul kereta harus berhenti.
  2. Warna kuning menunjukkan indikasi hati-hati, jika warana ini muncul kereta harus dikurangi kecepatannya dan bersiap untuk berhenti.
  3. Warna hijau merupakan petunjuk untuk kondisi aman.

Peralatan persinyalan yang pernah digunakan di Indonesia:

Alkmaar

Alkmaar digerakkan dengan tuas penggerak sinyal secara manual, yakni dengan tenaga manusia. Tuas penggerak dan palang sinyal dihubungkan dengan kawat atau rantai. Stasiun yang menggunakan persinyalan alkmaar memiliki ciri-ciri seluruh wesel menggunakan tuas penggerak wesel manual yang berada di dekat setiap wesel. D stasiun yang menggunakan peralatan ini, wesel tidak dioperasionalkan secara terpusat.

Sistem persinyalan alkmaar tidak dapat dirangkai dengan sinyal blok, sehingga tidak dapat digunakan di stasiun yang berbatasan dengan stasiun lain yang menggunakan peralatan persinyalan elektrik.

Sinyal Mekanik
Sinyal Mekanik (foto: id.wikipedia.org)

Siemens & Halske Manual

Sama seperti alkmaar, peralatan jenis ini juga digerakkan oleh tenaga manusia. Palang sinyal pada tiang sinyal digerakkan oleh tuas pengerak yang berada di stasiun.

Siemens & Halske biasanya digunakan pasa lintasan kereta dengan frekuensi perjalanan kereta api yang tidak padat. Karena tidak memungkinkan dipasang interlocking pada persinyalan tersebut, maka sistem pengamanan perjalanan kereta api dilakukan hanya berdasarkan pertukaran informasi antar stasiun, informasi ini akan dicatat dalam buku warta kereta api.

Siemens & Halske Semi Otomatis

Persinyalan Siemens & Halske semi otomatis merupakan sistem persinyalan yang digerakkan secara mekanik buakn dengan tenaga manusia, namun  dengan perangkat blok elektro mekanis.

Secara fisik persinyalan ini sama dengan Persinyalan Siemens & Halske manual namun dipasangi tambahan lemari blok. Lemari blok ini berfungsi sebagai interlocking antar stasiun. Persinyalan Siemens & Halske semi otomatis ini dapat dgunakan di utama dengan kepadatan perjalanan kereta api tergolong tinggi.

Tentang Dinar Firda Rosa 263 Articles
Peminat studi Teknik Informatika, saat ini bermukim di Malang - Jawa Timur