Persinyalan Kereta Jabodetabek Tua, PT LEN Siapkan 2 Opsi

dahlan iskan di depan gate in stsiun manggarai
Menteri BUMN

Jakarta – Industri (Persero) telah memberikan 2 opsi untuk mengganti persinyalan kereta yang telah berusia kira – kira 25 tahun. telah siap untuk diberi tugas mengganti persinyalan kereta di wilayah Jabodetabek. memberikan 2 opsi ini setelah Menteri Badan Usaha Milik Usaha Milik Negara (BUMN) meminta pihaknya untuk membantu memperbaiki persinyalan di wilayah Jabodetabek yang telah tua karena usia.

“Suatu peluang bagi LEN untuk benahi persinyalan Jabodetabek,”jelas Direktur Utma PT LEN, Abraham Mose kepada detikFinance.

Opsi yang diberikan oleh PT LEN untu mengatasi persinyalaan kereta di wilayah Jabodetabek adalah dengan adanya crash program atau meremajakan semua persinyalan kereta.

Pilihan crash program disini maksudnya adalah mengganti peralatan persinyalan yang mendesak atau yang perlu diganti saja. Jika memilih pilihan ini butuh waktu sekitar 6 samapai 10 bulan.

Lalu pilihan meremajakan semua persinyalan di seluruh wilayah Jabodetabek membutuhkan waku hingga 3 tahun. Jika memilih program ini anggran yang dibutuhkan Rp 500 miliar.

Pihak PT LEN sudah menyampaikan pihaknya sudah mampu untuk melakukan pengkondisian sistem kereta saat dimulai perbaikan. Tetapi pihak PT LEN sebelum melangkah untuk menjalankan tugas ini perlu persetujuan dan Kemenhub (Dirjen Perkeretaapian).

“Kita siap pembenahan dan pengkodisian sistem (kereta) Jabodetabek,” jelasnya.

Pihak PT LEN juga mengklarifikasi tentang pernyataan Menteri BUMN yang mengatakan bahwa PT LEN yang bertanggung jawab atas persinyalan di wilayah Jabodetabek.

Menurut Dirut Utama PT LEN, pihaknya sekarang sedang fokus dengan proyek double track di luar wilayah Jabodetabek seperti MP3EI, double track Cirebon – Surabaya , Cirebon Semarang.

Tentang Mirza Pratiwi 347 Articles
Kontributor berita, berasal dari Madiun: pusat pengembangan industri kereta api di Indonesia. Saat ini sedang menyelesaikan studi Teknologi Informasi di Universitas Negeri Malang. Penulis yakin bahwa masalah transportasi di Indonesia akan lebih baik jika difokuskan pada pembangunan sistem transportasi masal.