Profil Stasiun Tuntang (TTG), Jawa Tengah

Tuntang (TTG) adalah sebuah yang terletak di wilayah kecamatan Tuntang, daerah perbatasan antara kabupaten dan Salatiga. yang berdiri di ketinggian ±464 mdpl ini termasuk dalam Daerah Operasi IV Semarang. Tuntang berada tepat di sebelah kali Tuntang, atau bertempat di bawah jembatan Tuntang.

Stasiun kelas III ini dahulu dibangun pada tahun 1871, dan mulai dioperasikan dua tahun setelahnya. Namun, stasiun ini berhenti beroperasi pada tahun 1970 bersamaan dengan dinonaktifkannya KA yang menghubungkan dengan Kedungjati. Stasiun ini kemudian beralih fungsi menjadi museum dan digunakan untuk melayani kereta wisata Ambarawa-Tuntang, sayangnya tak bertahan lama karena faktor rel yang rusak.

Di tahun 2002, stasiun kembali dibuka setelah jalur selesai direnovasi. Mulanya, stasiun Tuntang hanya dimanfaatkan untuk melayani lori Ambarawa-Tuntang. Namun, pada tahun 2009 stasiun ini kembali melayani kereta uap wisata lagi.

Rencana reaktivasi jalur Tuntang-Kedungjati semakin mendekati kenyataan setelah ditandatanganinya MoU ketiga pihak terkait. Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara (Persero), Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub), dan Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo di Stasiun Ambarawa pada tahun 2013 lalu praktis menghidupkan kembali jalur kedungjati dan juga Stasiun Tuntang. Reaktivasi jalur ini diharapkan dapat mengatasi kepadatan lalu lintas darat yang sudah terlalu tinggi. Disamping itu, pengaktifan jalur ini juga meningkatkan potensi kunjungan wisatawan ke museum lokomotif uap Ambarawa ataupun ke Danau Rawa Pening.

Jalur Kedungjati tersebut nantinya akan digunakan untuk angkutan dan wisata. Selain itu, kereta api komuter juga direncanakan bakal melintas di Jalur Ambarawa, Tuntang, dan Kedungjati, hingga ke Semarang.

Kini, Stasiun Tuntang memiliki 2 jalur kereta api dan 1 jalur kereta api baru yang tengah dibangun di sebelah gudang. Disediakan juga dipo lokomotif baru yang di sebelah timur Stasiun Tuntang yang akan digunakan  untuk menyimpan beberapa lokomotif diesel. Stasiun Tuntang kedepannya akan dijadikan museum lokomotif diesel, dikarenakan hampir semua lokomotif diesel hidraulik milik sudah waktunya pensiun beroperasi.