Proyek Kereta Api “Ringan” gantikan Monorel

Melalui Kementerian Badan Usaha Milik Negara (), Indonesia berencana untuk mengganti proyek dengan proyek (Light Rail Transit). Proyek yang diklaim memiliki bobot ringan tersebut rencananya akan dibuat di atas jalan milik . Rini Soemarno selaku Menteri BUMN mengatakan bahwa saat ini pihaknya diminta langsung oleh Presiden Joko Widodo untuk melaksanakan tes terkait uji kelayakan (feasibility study) untuk proyek LRT tersebut.

Proyek ini sejatinya merupakan sinergi dari bebrapa perusahaan “pelat merah” di bidang konstruksi. “Jadi sinergi BUMN. Apakah sebagian (lintasannya) akan ada di atas tolnya (milik) Jasa Marga, karena tadi ada Jasa Marga, Wijaya Karya, Adhi Karya, dan yang akan merakitkan. Kita harapkan bisa membuat keretanya (dengan baik),” kata Rini saat diwawancara oleh awak media di Istana Negara kemarin (Kamis, 19/3).

Rini juga mengungkapkan bahwa pihaknya berencana untuk membuat kereta api ringan tersebut di atas atau di sebelah jalan tol dengan tujuan agar tidak terganjal oleh masalah pembebasan lahan. “Sebab itu yang kami pikirkan sekarang apakah ini akan (ditempatkan) di tempat-tempat yang memungkinkan, (misal) bisa di sebelah jalan tol, ya kita lakukan di sebelah jalan tol atau di atasnya (jalan tol),” jelasnya.
Sementara itu, Dirut PT Adhi Karya menjelaskan bahwa LRT tersebut merupakan jenis kereta api dengan ukuran yang lebih kecil dan dinilai lebih fleksibel. Total yang digelontorkan untuk proyek tersebut adalah sekitar 3,75 Triliun untuk pengadaan rel sepanjang 15 km. “More or less, kurang lebih plus minus harganya 250 Miliar per km. Jadi, kalau 15 km ya kalikan saja,” ujarnya.