PT KAI Tutup Perlintasan Kereta Tak Berpalang di Solo Secara Bertahap

Eko Budiyanto, Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi 6 Yogyakarta - www.solotrust.com
Eko Budiyanto, Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi 6 Yogyakarta - www.solotrust.com

Solo (KAI) terus melakukan penutupan tanpa palang pintu, termasuk di wilayah Solo. Pasalnya liar ini dinilai dapat membahayakan keselamatan para jalan.

“Tapi kalau perlintasan liar kita datang kita seleksi dulu. Kita lihat kalau itu liar dan membahayakan masyarakat akan kita tutup,” ujar Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta Eko Budiyanto, Rabu (20/2) siang, seperti dilansir Tribunnews.

Akan tetapi, ke depannya penutupan perlintasan tak berpalang tersebut akan terus dilakukan oleh pihak KAI guna meminimalisir terjadinya kecelakaan. “Ini masih akan terus kita lakukan, karena nantinya frekuensi datangnya kereta akan semakin banyak,” beber Eko.

Tak hanya menutup perlintasan liar, PT KAI juga bakal menutup perlintasan yang terdapat flyover dan underpass. “Yang di atasnya ada flyover terus bawahnya underpass, underpass kita tutup salah satu,” ungkap Eko.

Hingga kini pihak PT KAI Daop 6 Yogyakarta telah menutup puluhan perlintasan kereta tanpa palang di wilayahnya. “Sekitar 30-an sudah kita tutup termasuk Kulon Progo, termasuk sebagian Purworejo, termasuk di Jogja fly over Janti itu kan yang bawa sudah kita tutup dan di wilayah Prambanan,” kata Eko.

Sementara itu, rencana penutupan perlintasan sebidang kereta api (KA) tanpa palang pintu yang menghubungkan Kelurahan Nusukan dan Kelurahan Kadipiro, Banjarsari, Solo per tanggal 1 Maret 2019 mendatang ternyata memperoleh penolakan dari warga. Warga khawatir jika penutupan perlintasan tersebut berpotensi mengganggu perekonomian warga.

Warga memang mengaku telah mengetahui ditutupnya perlintasan sebidang tersebut dari beberapa hari lalu, tetapi belum mendapat sosialisasi terkait rencana penutupan perlintasan KA. “Perlintasan ini sangat vital walaupun hanya sebidang tapi dampaknya luar biasa dalam mengurangi kemacetan di Simpang Ngemplak dan Simpang Joglo. Seharusnya dicarikan solusi bersama, kereta bandaranya juga belum beroperasi,” kata salah satu warga bernama Widodo.

“Coba dilihat pada jam berangkat sekolah, jam kerja, dan jam pulang kerja. Sangat ramai perlintasan ini, bayangkan kalau ditutup Simpang Joglo dan Ngemplak akan sangat macet,” sambungnya. Oleh sebab itu warga ingin pihak KAI melakukan sosialisasi secara menyeluruh dan mencari solusi bersama lantaran warga secara swadaya merawat dan menjaga perlintasan sebidang tersebut.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*