Stasiun Pasuruan (PS), Stasiun kereta api di ujung Barat Daop IX

Pasuruan (PS) adalah stasiun kelas II yang menjadi stasiun aktif paling barat di wilayah Jember. Stasiun ini berdiri di ketinggian +3 mdpl, tepatnya di Jalan Stasiun No. 1, Kelurahan Trajeng, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan, Jawa Timur.

Stasiun yang berada di sebelah barat Pasar Kota Pasuruan ini dibangun pada pertengahan dekade tahun 1870-an, sehubungan dengan jalur kereta api Surabaya – Malang. Bangunan Stasiun Pasuruan terakhir kali direnovasi pada tahun 2014.

Stasiun yang letaknya paling rendah di Daop IX Jember ini memiliki 4 jalur aktif, 2 diantaranya digunakan sebagai sepur lurus, dan satu jalur lainnya dimanfaatkan sebagai jalur badug menuju gudang.

Untuk saat ini, Stasiun Pasuruan melayani 5 kereta api kelas campuran dan , diantaranya KA Mutiara Timur Siang (tujuan Banyuwangi), KA Logawa (Jember – Surabaya – Purwokerto), KA Sri Tanjung (Banyuwangi – Surabaya – Yogyakarta), KA Tawang Alun (Banyuwangi – Bangil – Malang), dan KA Probowangi (Banyuwangi – Surabaya).

Selengkapnya, berikut terkait dan tujuan dari beberapa kereta api yang melintas di Stasiun Pasuruan (sesuai Gapeka 2015):

Nama & No. KA Kelas Tujuan Tiba Berangkat
KA Probowangi (219) AC Banyuwangi Baru (BW) 05.48 05.50
KA Logawa (190/187) Ekonomi AC Surabaya Gubeng (SGU) bersambung Purwokerto (PWT) 07.37 07.39
KA Mutiara Timur Siang (87) & Bisnis Banyuwangi Baru (BW) 10.10 10.12
KA Tawang Alun (208/209) Ekonomi AC Bangil (BG) bersambung Malang Kota lama (MLK) 10.37 10.39
KA Sri Tanjung (196/193) Ekonomi AC Surabaya Gubeng (SGU) bersambung Yogyakarta Lempuyangan (LPN) 11.58 12.00
KA Sri Tanjung (194/195) Ekonomi AC Banyuwangi Baru (BW) 15.44 15.46
KA Logawa (188/189) Ekonomi AC Jember (JR) 16.42 16.44
KA Tawang Alun (210/207) Ekonomi AC Banyuwangi Baru (BW) 17.49 17.51
KA Probowangi (220) Ekonomi AC Surabaya Kota (SB) 19.27 19.29

Stasiun Pasuruan termasuk dalam daftar stasiun kereta pai tertua di Jawa Timur. Meski telah direnovasi beberapa kali, bangunan Stasiun Pasuruan masih dipertahankan dalam bentuk aslinya, sesuai arsitektur peninggalan kolonial Belanda. Pembangunan stasiun ini diperkirakan bersamaan dengan pembangunan jalur rel kereta api dari Surabaya-Bangil-Pasuruan sepanjang 63 kilometer yang dikerjakan oleh Perusahaan Staatsspoorwegen di tahun 1876-1878.

Dahulu, ada jalur trem milik PsSM (Pasoeroean Stoomtram Maatscappij) yang bercabang dari jalur 1 melewati Pecinan (Jalan Niaga) menuju Sengon yang sekarang sudah dinonaktifkan. Selain itu, terdapat juga bekas jalur kereta api menuju Wonorejo dan Winongan yang dahulu juga dikelola oleh PsSM.