Switch Over Jalur Ganda Telah Aman untuk Dilewati Kereta

GROBOGAN – Rabu, 27 November 2011 melakukan uji coba antara Gubug-Ngrombo berjalan lancar. Dari sebelas titik atau pemindahan wesel di empat sepanjang 36 km dinyatakan aman.

KA Argo Bromo Anggrek merupakan kereta pertama yang melintasi switch over di Stasiun Ngrombo. KA ini berangakat dari Surabaya menuju Jakarta. Saat berjalan melewati switch over KA ini berjalan dengan kecepatan 10 km/jam.

Namun saat kereta berada di jalan raya, KA ini bisa dinaikkan kecepatannya hingga 60 km/jam. Namun untuk jalur Jakarta- Surabaya, KA barang yang pertama melintasi switch over Stasiun Gubug.

Hendy Siswanto, Kepala Satker Pengembangan Perkeretaapian Jateng mengungkapkan bahwa jalur ganda dan switch over ini awalnya memang dapat menyebabkan keterlambatan kereta. Keterlambatan ini karena kerta harus membatasi kecepatannya. Namun setelah perawatan dan penggunaan jalur ganda selama lebih dari tiga hari kecepatannya dapat dinaikkan menjadi 60 km/jam.

“Saat kereta melintas di switch over memang harus diturunkan kecepatannya. Switch over ini mengganti sinyal dari mekanik ke elektronik,” kata Hendy pada wartawan suaramerdeka.com.

Satu-satunya hambatan dalam jalur ganda ini hanyalah pembebasan lahan. Dari total 1226 bidang tanah yang harus dibebaskan, ada sekitar 243 bidang yang belum selesai. Sejumlah 93 bidang merupakan tanah kas desa, pengairan dan Perhutani yang berada di Grobogan. Ditambah sekitar 150 bidang tanah milik perseorangan yang berada di Blora. Yakni di Desa Cepu, Wadu, Sumber, dan Doplang.

Jika tindakan persuasif hingga tanggal 13 Desember belum selesai maka langkah kosinyasi yang akan diambil. “Konsinyasi adalah langkah terakhir. Kami sudah melakukan pendekatan. Tapi ada yang tetap menolak. Maka pengadilan akan memutuskan,” ujar Hendy.

Tentang Mirza Pratiwi 347 Articles
Kontributor berita, berasal dari Madiun: pusat pengembangan industri kereta api di Indonesia. Saat ini sedang menyelesaikan studi Teknologi Informasi di Universitas Negeri Malang. Penulis yakin bahwa masalah transportasi di Indonesia akan lebih baik jika difokuskan pada pembangunan sistem transportasi masal.