Traveling Menyenangkan dengan Kereta Api dan Bus Ekonomi

SAYA tidak menyangka bahwa mencari kamar yang kosong di masa liburan begitu sulitnya di Pulau Lombok pada minggu yang lalu. Padahal, saya telah merencanakan liburan keluarga, kalau tidak ke Lombok, ya ke Pulau Komodo.

Namun, rupanya, liburan kali ini saya harus gigit jari. Semua agent, baik maupun offline yang kami kenal, tidak punya stok kamar kosong. Saya pun menelpon sahabat yang ada di Pulau Lombok, bertanya kepada agent yang ada di sana, hasilnya pun sama. Bahkan, hotel-hotel melati pun sudah full booked semua.

Anak-anak saya pun usul, pergi ke saja, ke waterboom, salah satu yang terbesar di kota itu. Sebagai tambahan catatan, naik kereta, itu yang mereka inginkan. Wah seru juga, pikir saya. Walau masih agak sedikit kecewa, saya pun memutuskan liburan kali ini, saya ajak mereka liburan di dan sambil naik Prameks.

Namun karena ada sahabat dari Jakarta ingin pinjam salah satu mobil kami di Solo, maka sekalian saja kami antarkan. Pulangnya barulah naik kereta Prameks Solo-Jogja, yang karcisnya hanya Rp 6.000. Kami berlima hanya Rp 30.000 sudah sampai di Jogja.

Sebenarnya, kami naik 25 menit sebelum keberangkatan. Namun rupanya kami terlambat, karena semua kursi sudah terpakai. Kami pun duduk lesehan. Bercanda seru-seruan. Kami juga merasa lucu, karena baru saja kami naik mobil mewah, sekarang harus lesehan di sebuah kereta .

Turun di Maguwo Adisutjcipto, seperti biasa banyak sopir taksi menawarkan taksi-taksi tembakan. Ke rumah kami, kalau taksi argo, hanya Rp 35.000. Tapi karena ini taksi tembakan, tanpa argo, maka mintanya dua kali lipat yakni Rp 70.000.

Setelah tawar menawar, akhirnya tidak sepakat. Anak saya yang sulung mengusulkan, “Naik Trans Jogja aja, Pa.”. “Ayukk,” sahut saya ringan. Apalagi kebetulan, saya juga belum pernah naik bus angkutan Kota Jogja itu.

Hasilnya? Dengan Rp 15.000, kami sudah ada di atas Trans Jogja. Anak saya yang mengatur tiketnya, mulai dari beli, sampai dengan memasukkan kartu ke boks tempat memasukkan kartu tiketnya. Hal baru bagi saya, walau pun saya pernah menggunakannya di stasiun MRT di Singapura.

Dari halte terdekat dari perumahan kami, kami pun berlima berjalan kaki. Masih tertawa- tawa, karena merasakan kami turun kelas terus, seharian ini. Mulai dari naik mobil mewah, , bus umum Trans Jogja, dan terakhir jalan kaki.

Namun lucunya, semua turun dengan sumringah, gembira, tidak ada wajah lelah. Saya pun bertanya pada mereka satu per satu. Jawabannya? “Seneng….” “Asyik….” “Lucu….” Semua menjawab dengan gembira.

Satu pelajaran hidup yang penting saya terima, bahwa kebahagiaan tidak selalu berada pada sesuatu yang lebih mahal. Namun, pada hal-hal yang lebih murah, sederhana, bahkan yang tidak laku dijual.

Nah…, Kalau kebahagiaan itu bisa diperoleh dari barang yang lebih murah, bahkan gratis, mengapa harus membelinya dengan yang mahal? ***

Putu Putrayasa
Business and Property Specialist
www.PutuPutrayasa.com

Tentang Masinis 182 Articles
Memulai karir menulis sejak duduk di bangku SMP sebagai layouter dan redaktur, dan membawa proses kepenulisannya hingga di bangku kuliah. 10 tahun terakhir aktif sebagai tenaga desainer di sebuah perusahaan yang berpusat di Malang. Beberapa tahun terakhir menjadi penumpang setia kereta api pagi rute Malang-Surabaya yang berangkat dari Stasiun Kotabaru jam 04.20 setiap hari. Sejak itu, penulis tertarik dengan segala hal tentang kereta api dan sistem transportasi publik.